By: ASN, Jakarta, 11 Juli 2009
Di Sumatra, orang menyebutmu Balam
Di beberapa wilayah lain, orang menyebutmu Perkutut
Kau biasa terbang bebas dihutan-hutan

Kesetiaanmu pada pasangan selalu merupakan bagian dari dirimu
Suaramu yang merdu telah membius banyak manusia
Mereka berebut memenjarakanmu
Dan menghargaimu dengan nilai setara dengan mata uang yang tinggi



Tidakkah mereka lihat keindahanmu di alam bebas
Berjalan dan terbang dengan anggun tanpa batas


Hm.. tidak sepertimu
Manusia memang sering kehilangan orientasinya
Orientasi atas arah, nilai2 kesetiaan dan arti keindahan sejati



Bahwa keindahan dan kemerduan sejati sesungguhnya ada saat ada kemerdekaan dan kehidupan bebas di alam raya
Bukan dibalik kurungan sempit dan jeruji
Terpesona oleh keindahan Burung Perkutut Bali, yang terbang dan hidup bebas dialam terbuka. Bukan dibalik kurungan buatan manusia, seakan dihargai dengan nilai tinggi padahal sesungguhnya dipenjara. Senang mendapat kunjunganmu sahabat..
Mohon maaf para pecinta (red baca: Pemenjara) Perkukut, saya memang berbeda pendapat dengan kalian tentang nilai2 keindahan dan kemerduan suara sejati yang jauh lebih mahal (bahkan tak ternilai harganya) saat burung2 Perkukut itu bisa terbang bebas di alam sana (bukan dalam sangkar di pekarangan rumah kalian)…
-
*Foto2 “Perkukut Bali” yang merdeka dan hidup dialam bebas, ini di ambil di Pantai Kuta tanggal 5 Juli 2009, antara pukul 09.03 sampai 09.15 waktu setempat.
Filed under: 2009 Juli, Alam, Kehidupan, Tulisan Pendek, jalan-jalan | Tagged: Tulisan Bebas, Alam, Kehidupan, Bali, jalan-jalan, Keindahan, Kuta, Burung Balam, Burung Perkutut

"Lucky Blogger" - 






wah aku juga baru tulis tentang “Sayap-sayap tsubasa” hihihi
EM
Wow… foto2nya keren banget…
Kok bisa2nya sih dapat moment burung liar terbang gitu..? Pasti gak mudah. Salut…
Burung Perkutut Bali nya juga keren Mas. Seperti pake selendang atau dasi gitu di lehernya.. Cantik sekali..
Burung Perkutut liar yaa…?
Bagi mereka yang suka memelihara (bahkan ada perkumpulannya segala), burung2 ini, apalagi yg dinilai bagus suaranya, harganya mahal sekali lho..
Tapi sesunguhnya emang ironi ya…? Kalo emang menyukai kok malah memenjarakan..???
Kayak cerita Manohara aja. Hahahaha…
Wow..
Mas Nug emang beda yah..? Biasa orang mencoba menyodorkan keindahan perkutut dalam sangkar. Kali ini mas Nug bisa menyajikan keindahannya dialam lepas, bebas..
Keren Mas..
saya setuju ma pandangan bapak. saya dlu suka mengamati kupu2 di taman depan rumah mbah. asyik sekali melihat kupu itu terbang kesana kemari. tapi sekarang, kupu2 itu sudah tk ada. entah kemana…
salam kenal pak
tukeran link dunk