
By: ASN, Milan, 11 November 2009
Seorang sabahatku suatu hari pernah berkata: “Yang terpenting itu kebahagiaan kita sendiri khan… At the end, kita akan hidup sendiri..”.
Hm.. aku gak mau terlalu panjang membahas, apalagi berdebat dengannya. Namun dalam kesempatan lain aku terpikir dimensi lain melihat kebahagiaan. Dan, ternyata defenisi kebahagiaan itu sangat bervariatif dan juga bisa berubah-ubah. Kadang kita melihatnya untuk kita sendiri bahwa kebahagiaan itu adalah jika kita sendiri bisa merasakannya. Tapi, ternyata juga gak selalu begitu. Kadang kita akan bahagia kalau orang lain bahagia..
Hanya sebuah sharing pemikiran…
Sahabatku bagaimana kalian melihat kebahagiaan dalam hidup ? Apakah benar ada kehidupan dan kebahagiaan yang benar2 untuk diri sendiri..?
-
*Foto “Kembang Warna Warni” ini kuambil di kaki Gunung Fuji, Jepang, tanggal 13 September 2009 pukul 12.22 waktu setempat.
Filed under: 2009 November, Kehidupan, Manusia, Sosial, Tulisan Pendek, Uncategorized | Tagged: Bahagia, Hanya Kata-kata, Hidup, Kehidupan, Manusia, Orang lain, Sastra, Sediri, Sosial, Tulisan Bebas, Tulisan Pendek

"Lucky Blogger" - 





wah sahabat mas itu egois banget ya?
Aku sih akan bahagia bila melihat orang yang kukasihi itu bahagia. Dan tidak akan bahagia selama orang yang kukasihi menderita.
Aku juga inginnya sih jika aku bahagia, bisa membuat orang lain bahagia juga. Memang nanti nantinya kita akan hidup sendiri, tanpa pasangan misalnya, tapi kita tidak bisa hidup benar-benar terisolasi dari masyarakat kan?
Aneh juga ya pemikiran dia? Atau itu hanya sekedar pembelaan dirinya saja?
EM
Sebagai mahluk sosial, sepertinya tidak ada kehidupan yang benar2 sendirian deh Mas.. Dan, karenanya kebahagian (sebagai bagian dari hidup itu) juga tidak mungkin untuk diri sendiri..
Betul gak sih, Mas Nug..?
*Sambil pasang gayan ala dosen.com*
Aku pikir pada awalnya orang suka terbawa egonya dan terjebak dengan kebahagiaan individualistis. Pada akhirnya kebahagiaan seperti itu hanya bersifat semu dan sama sekali gak akan membahagiakan..
Jadi sedih liat para koruptor yang berfikir bisa membeli kebahagiaan pribadi dan bahkan keluarganya dengan unag hasil mengambil uang rakyat yang bukan haknya…
Lho kok balik ketopik ini lagi yaa..? *Masih kesel.com*
Hidup bukan hanya untuk kebahagiaan diri kita, namun sesungguhnya juga untuk kepentingan orang lain, kesulitan orang lain dan berusaha membantu memberikan solusi, disitulah letak pintu rejeki dan kebahagiaan, suatu berkat dari Tuhan yang tanpa batas…..hwuaaaaa……. lagi di Itali ya Mas, ngga ngajak2 hiks..hiks… salam utk dr Cindy ya, “jgn lupa balik”… jadwal jaga sudah menunggu….hihihihi…..
Aku tak parcaya kebahagian hanya untuk diri sendiri. Pertanyaannya gimana caranya bisa merasa bahagia jika sampai orang lain justru menderita akibat kebahagiaan itu..? Namun ternyata banyak ya yang seprtinya terjebak dengan konsep kebahagiaan semu seperti itu… Hm, budaya menghalalkan segala cara…
Yang jelas, kebahagiaan itu komunal, adanya kebersamaan.. jika hanya satupihak saja, berarti belum merupakan sebuah kebahagiaan hakiki, hanya sebatas individu saja.
Toh gak mau khan kita masuk dorga sendirian. atau shalih sendirian?
gimana om….???
Aku berbahagia jika orang2 disekitarku berbahagia Mas…
mungkin tidak lengkap kebahagiaan itu .,,disaat kita bahagia tapi ada teman/rekan kita yg tidak bahagia..!
Sahabatnya mas Nug itu mungkin lupa kali ya bahwa hampir setiap waktu kita berhubungan dengan orang lain, selagi masih hidup…
Kebahagian akan selalu lebih nikmat jika dinikmati bersama… Dengan orang2 disekitar kita, apalagi dengan orang yang kita sayangi.. Hm..
Bahagia adalah jika kita bisa berdekatan dengan orang-orang yang kita kasihi. Namun lebih bahagia lagi jika bisa merelakan orang yang kita kasihi mengejar kebahagiaan mereka, walau terpaksa meninggalkan kita sendirian.