Damai senja

 photo IMG_0083a1Small_zps86d45f3f.jpg

By: ASN, Jakarta 25 April 2012

Jelang senja
Sunyi mengaduk jiwa
Antara batu-batu granit
Menyapa indah langit jingga
Mengisi rongga-rongga lara
Meresap dalam damai sukma

    *Foto “Jelang senja” ini kuambil di Belitung Barat, tanggal 7 April 2012, pukul 18.02 WIB.

Jelang badai

 photo IMG_7370a1Small_zps096917ff.jpg

By: ASN, Jakarta, 24 April 2014

Berada dalam bangungan tua
Beberapa atap seng-mu, bocor
Mendung ini menggulung
Dan, langit semakin gelap
Sebentar lagi badai datang
Bersiap…

    “Foto “Jelang badai” ini kuambil di Belitung Timur, tanggal 6 April 2012, pukul 13.27 WIB.

Suatu tanya di sudut hati

Pasir Basah

By: ASN, Jakarta, 14 April 2011

Akh..
Pasir ini basah
Nyata tinggalkan jejak-jejak kaki
Hanya sesaat, lalu tersapu ombak, hilang..

Asa seakan tergulung dalam derasnya
Menarik hati ke dasar kesedihan
Mencoba bertanya pada jiwa
Kemanakah ujungnya nanti?

Terdiam..

    *Foto “Pasir Basah” ini kuambil di Pantai Kuta, Bali, tanggal 5 Juli 2009, pukul 09.17 Waktu setempat.

Turut berduka..

Photobucket

By: ASN, Jakarta, 28 Oktober 2010

Bencana tak ada akhir..
Wasior tertimbun longsor
Mentawai tersapu Tsunami..
Merapi yang muntahkan isi bumi,
semburkan lahar, awan panas membakar
Sudah cukup banyak air mata tertumpah
Sudah cukupkah kita bertanya apakah kita telah
perlakukan alam dan sesama manusia sepantasnya?
Turut prihatin dengan keadaan saudara2ku
Larut dalam duka dan doa…

    *Foto “Titik Air Hujan” ini kuambil di dahan pohon Pepaya di halaman rumahku tanggal 3 Oktober 2010 pukul 15.44 WIB.

Selamat jalan Guru Kehidupan

ASN & Kak Res

By: ASN, Jakarta, 27 Maret 2010

Ketika sosok yang terkesan nyeleneh itu maju memimpin
Ada banyak pro kontra menyertainya
Namun ia maju terus dalam keyakinan penuhnya
Bahwa sebuah itikad baik dan pengalaman sudah cukup
Kemasan luar bukanlah esensi persoalan
Target akhir merupakan indikator pencapaian

Alhasil manusia-manusia muda yang bergabung juga tak banyak
Hanya mereka yang mampu kuatkan fisik dan mental yang tersisa
Tak urung semua kuburan sudah didatangi
Hutan belantara ditembus
Rawa-rawa dilewati
Karang terjal dipanjat
Gunung tinggi didaki hingga kepuncaknya

Sosialisasi dan jalinan persahabatan terbentuk
Kesiapan menghadapi hidup ditata ulang hingga ke basic
Kesetiakawanan, kejujuran dan nilai-nilai kehidupan diterapkan
Kepemimpinan dikembangkan dibatas maksimal
Fisik dan mental yang lemah jadi kuat
Sifat penakut jadi pemberani
Si peragu menjadi penuh percaya diri
Si sombong kini tundukkan kepala dan hati
Tak ada kata menyerah

Manusia-manusia muda itu kini bertebaran dimuka bumi
Menjalani kehidupan mandiri mereka dengan penuh percaya diri
Melewati persaingan ketat mencapai prestasi

Sekolah apakah ini..?
Ini adalah sekolah kehidupan
Dan dibalik itu ada seorang manusia nyeleneh berhati mulia
Yang kadang berada didepan dan kadang mendorong dari belakang
Yang tak pernah berhitung untung rugi untuk manusia-manusia muda itu
Membagi privacy dan waktunya untuk mereka
Berbagi segala ilmu kehidupannya tanpa reserve

Kami memanggilnya dengan sebutan “Kak
Dia adalah seorang “Res Natawijaya

Terima kasih Kak Res atas kesempatan bergabung denganmu
Pada sekolah kehidupan dimasa usia muda kami
Jasa, ilmu dan segala tips kehidupan darimu tertoreh dalam
Tak kan pernah bisa terlupakan

Selamat jalan Kak Res..
Kami tau kau akan tetap senang dan berbahagia diperjalan jiwamu
Dan doa kami selalu menyertaimu
Semoga Allah memberi tempat terbaik untukmu disisiNYA

NB: Gak usah repot2 siapin Kambing Guling segala (seperti kebiasaanmu dulu itu) jika suatu hari kita bertemu lagi disana kelak.. :)

Berduka atas berpulangnya Kak Res Natawijaya, seorang guru kehidupan. Selamat jalan Kak Res. Semua pejalaran kehidupan darimu telah membentuk kami jadi manusia-manusia seperti sekarang ini. Semoga Allah memberimu tempat terbaik disisiNYA. Amin…

Senang melihatmu beranjak…

By: ASN, Jakarta, 13 Desember 2009

Duri itu menembus lapisan kulitmu
Manancap dalam tinggalkan perih
Kau terdiam.. berusaha menahan tangis

Ada goresan yang sangat dalam
Aku hanya melihatmu dari kejauhan
Kau berusaha tegar dan mengikuti saja test keikhlasan ini

Sesekali terlihat kerut dikeningmu dan matamu kadang menyipit
Aku bahkan sangat menghargai upayamu untuk tersenyum
Ada pancaran kekuatan aura positif yang mulai muncul

Suatu proses yang manusiawi sekali
Mengangguk dan membalas senyummu
Teruslah melangkah.. jalanmu masih panjang dan terbuka lebar.

Beranjak menjauh…

Sebuah senyum tulus memberi semangat untuk sahabat, ketika kesedihan datang menyelimutimu dan aku melihat ketegaranmu untuk melangkah keluar dari lingkaran itu.

    *Foto “Jalan Kosong Dibalik Bukit” ini kuambil di sekitar Padang Panjang, Sumatra Barat, pada tanggal 24 Mei 2009 pukul 08.24 WIB.

Ketika Senja Tiba

By: ASN, Jakarta, 20 Oktober 2009

Desir angin itu
Tagakkan bulu roma
Suatu titik bergantinya kehidupan

Sebuah penantian
Sebuah jawaban
Atau sebuah pertanyaan..?
Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 294 other followers

%d bloggers like this: