Sedih aja…


By: ASN, Jakarta 14 Agustus 2008

Sedih aja…

Waktu ayah mungkin kurang banyak…
Gak bisa pulang sore ke rumah..
Kadang sore ayah juga gak sempat telpon saat anak2 sudah dirumah..

Anak ayah sepertinya perlu perhatian dan bantuan
Kalo gak, dia akan kehilangan momentum lagi…
Dan kehilangan kesempatan untuk berubah…

Ayah yakin dia mau dan bisa..
Tapi itu tidak mudah buat dia…
Butuh proses ketat dalam waktu tertentu sampai dia bisa mempunyai kebiasaan baru yang positif.
Punya kebutuhan untuk memperoleh hasil yang maksimal..
Lebih bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri…

Sedih aja…
Diusia ayah yang bertambah, justru kadang harus menjadi sosok yang keras buat dia…
Dia anak ayah dan ayah sangat sayang ke dia…

Sedih aja…
Karena tak banyak opsi agar dia terbantu…
Dan ayah mesti jalankan peran itu…
Peran yang sebenarnya menyakitkan buat kedua pihak…

Luv U all,
Ayah

    *Fenomena ayah metropolitan yang sibuk dan kebutuhan memberi wakti lebih bagi keluarga yang memang diperlukan

    ** Foto “Metropolitan Sudney Diwaktu malam” ini kuambil dari Darling Harbour, Sydney, tanggal 30 Oktober 2008, pukul 21.28 waktu setempat.

5 Responses

  1. sweet…..very sweet mas……………deeply touch………kadang kita harus bisa membedakan antara sayang dan kasihan……….

    kasihan karena kita harus berperan menjadi seserorang tidakseperti yagn dia mau

    tapi kita tahu target kita…..dan kita harus jalankan karena kita “sayang” sama dia…….

    jadi ,……mari kita jalankan peran kit aberdasarkan azas “sayang”

  2. Hm… iya Grace. Kadang gak mudah untuk mengkombinasikan rasa sayang dan menterjemahkannya dalam bahasa yang positif dan mendidik untuk perkembangan si anak yaa…?

  3. kan namanya juga anak cara berpikirnya belum nyampe kesitu dan juga belum banyak pengalaman….jadinya belum tahu bagaimana harus bertindak tanduk.

    nah kita yang ceritanya udah makan asam garam ini yang musti ceritain pengalaman dan memberi gambaran….

    reaksinya bisa macem macem….tapi ya itulah gunanya dan fungsinya kita…..makanya dipercaya untuk mengasuh.

  4. PULANGLAH

    Pulanglah, selagi hari masih senja
    Agar kaupun bisa menikmati sisa mentari yang hendak tenggelam
    Dan rasakan betapa jingga di antara keremangan itu indah

    Pulanglah dan jangan tahan kakimu
    Untuk kembali ke rumah
    Saat jenuh telah membuncah dan membutakan pikiranmu
    Dan jari jemari penuh dengan kepalan geram
    Biarlah kau hentakkan itu semua di dalam hening rumah

    Pulang lah dan jangan terlambat
    Sisihkan kupingmu untuk masih menikmati adzan magrib dari surau dekat rumah
    Dan biarkan nada itu mengalir dalam relung jiwamu
    Hantarkan engkau untuk hening

    Pulanglah segera
    Karena ada hati yang selalu setia menantimu di depan pintu

    “catatan nia”-julies kurnia-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: